Selasa, 20 Oktober 2015

Antara Seni, Demokrasi, dan Moral

Empat puluh tahun sudah FX Harsono memainkan peran penting dalam seni kontemporer di Indonesia. Karya-karya seni instalasi dan pertunjukannya yang sarat akan makna politik membawanya ke gerbang kesuksesan sebagai seniman. Komitmennya terhadap seni dan kebebasan berekspresi di kawasan ASEAN juga menghantarkan Harsono dalam meraih penghargaan Joseph Balestier Award for the Freedom of Art.

Penghargaan ini dinamai Joseph Balestier, seorang diplomat Amerika Serikat pertama yang terakreditasi di Singapura, penunjuk Konsul Amerika ke Singapura pada 1836, juga kerabat dari seorang pahlawan Amerika, Paul Revere.
FX Harsono dinobatkan sebagai pemenang dalam acara penghargaan seni bergengsi tersebut. Di Gedung Kedutaan Amerika Serikat, Singapura  ̶̶  Harsono menerima hadiah sebesar $5.000, trofi, dan sertifikat. Penghargaan ini diserahkan oleh Duta Amerika Serikat di Singapura, Kirk Wagar dan Pendiri dan Direktur Pameran Art Stage Singapore, Lorenzo Rudolf.

Penobatan Harsono dan 7 nominator di penghargaan ini didasarkan pada aktivitas tulusnya dalam kancah seni kontemporer. Mereka terus meneliti realita sosial yang ada di negara asalnya. Seniman yang dinominasikan adalah Lee Wen (Singapura), Nadiah Bamadhaj (Malaysia), Pablo Baen Santos (Filipina), Aye Ko (Myanmar), Svay Sareth (Kamboja), dan Manit Sriwanichpoom (Thailand).
Kembali kepada kiprah FX Harsono, penghargaan yang ia dapatkan merupakan buah hasil usahanya menjadi seorang pemimpin dan pionir dalam berkesenian. Lewat seni, ia mendorong kebebasan berbicara dan demokrasi, sehingga akan membentuk budaya dan politik ASEAN saat ini dan masa depan.
Karya-karya Harsono yang sering kali mengangkat tema mulai dari wacana pro-demokrasi hingga kepeduliannya terhadap etnik minoritas. Karyanya mengenai penindasan dan perasaan yang sangat 'menyentil' dan bisa dibilang sebagai protes politik secara halus dan ringan dikemas dalam bentuk seni kontemporer.
Seni kontemporer begitu berpengaruh lebih dari sekadar menyuguhkan keindahan tetapi sebagai kritik sosial. Melalui karyanya ini, Harsono sangat berharap para seniman kontemporer juga bertindak 'bebas' dan memainkan peran pentingnya untuk menyuguhkan karya-karya seni yang memiliki pesan moral dan sarat kritik sosial.

Menurut Harsono, seorang seniman harus memiliki sikap dasar individualis, artinya untuk menjadi dan bertindak bebas, seniman harus mampu memainkan peran pentingnya di tengah-tengah masyarakat modern. Seni kontemporerlah media yang cocok untuk menyalurkan kebebasan berbicara dan bertindak dalam menyampaikan kritik sosial dan budaya, terutama untuk memajukan Indonesia khususnya dan negara yang berada di Asia Tenggara umumnya.


0 komentar

Posting Komentar